Beberapa Mode Kegagalan Angkur yang Harus Diperhatikan.
Artikel ini secara singkat membahas mekanisme kerja angkur mekanis dan angkur adesif, yaitu interlock mekanis/keying, gesekan, ikatan adhesi, dan sebagainya. Contoh-contohnya ditampilkan menggunakan angkur Hilti yang populer untuk setiap jenis mekanisme kerja tersebut. Mode kegagalan (yang berkaitan dengan baja dan beton) akibat beban tarik dan geser dibahas bersama dengan deskripsi kegagalan, representasi 3D, serta foto-foto di lokasi proyek.

Pahami Bagaimana Cara Angkur Pasca-Cor Bekerja
1. Apa yang Dimasksud dengan Angkur Pasca Cor
Angkur yang dipasang setelah konstruksi selesai membantu memberikan fleksibilitas untuk modifikasi, perbaikan, maupun penambahan struktur baja baru pada struktur beton yang telah dibangun sebelumnya, sekaligus memastikan sambungan terpasang dengan kokoh. Teknologi ini dapat diterapkan dalam berbagai aplikasi, termasuk sambungan struktural dan nonstruktural, dengan proses pemasangan yang sederhana serta berkontribusi pada praktik konstruksi berkelanjutan yang sesuai dengan standar modern. Untuk sambungan baja ke beton, Angkur yang dipasang setelah konstruksi menciptakan solusi yang andal, aman, dan sesuai dengan kode bangunan, sekaligus menjaga integritas struktural pada aplikasi struktural primer, sekunder, sementara, serta aplikasi non-struktural.
Penggunaan Angkur Pasca-cor
Gambar 1.1: Lokasi tipikal sambungan pada bangunan
2. Prinsip Kerja Angkur
Sistem pengikat (fastening systems) mentransfer beban yang bekerja ke material dasar dengan berbagai cara. Baik pada kondisi tarik (Gambar 2.1 a) maupun geser (Gambar 2.1 b), mekanisme transfer beban melibatkan pemanfaatan kuat tarik beton. Dalam hal ini, kita merujuk pada teori desain angkur (fastening design theory), berbeda dengan teori beton bertulang, di mana kuat tarik beton biasanya diabaikan dalam perancangan.
Mekanisme transfer beban pada berbagai sistem pengikat umumnya diklasifikasikan menjadi: Interlock mekanis (mechanical interlock), gesekan (friction), dan ikatan adhesif (adhesive bond)
Gambar 2.1. Ilustrasi pemanfaatan kapasitas tarik beton untuk mentransfer beban oleh post-installed anchor (teori desain angkur)
Post-installed anchor bekerja berdasarkan satu atau lebih mekanisme berikut:
1. Mechanical Interlock (Penguncian Mekanis)
Mekanisme ini mendefinisikan prinsip kerja di mana beban ditransfer melalui bidang tumpu (bearing surface) antara angkur dan material dasar (lihat Gambar 2.2 a). Beberapa jenis angkur menghasilkan penguncian mekanis antara angkur dan material dasar. Untuk mencapainya, lubang bor silindris dimodifikasi sehingga terbentuk lekukan (notch) atau undercut dengan dimensi tertentu pada lokasi yang telah ditentukan, baik dengan menggunakan mata bor khusus maupun melalui aksi undercut dari angkur itu sendiri.
Contoh: Hilti HDA
2. Mekanisme Gesekan (Friction Mechanism)
Mekanisme ini merupakan cara transfer beban pada sistem yang menghasilkan gaya ekspansi, misalnya melalui klip atau wedge yang ditekan ke dinding lubang bor selama proses pemasangan.Gaya gesek yang terjadi akan menyeimbangkan gaya tarik eksternal pada angkur. Beban tarik N ditransfer ke material dasar melalui gaya gesek R (lihat Gambar 2.2 b).
Contoh: Hilti HST4
3. Mekanisme Ikatan Adhesif (Adhesive Bond Mechanism)
Mekanisme ini melibatkan transfer beban dari angkur ke beton melalui ikatan adhesif (lihat Gambar 2.2 c). Gaya ditransfer:
dari elemen angkur (misalnya batang berulir) ke mortar melalui
interlock mekanis.
dari mortar ke material dasar melalui kombinasi
mikro-interlock dan adhesi kimia antara mortar dan permukaan samping lubang bor
Contoh: Hilti HIT-HY 200 A V3
Gambar 2.2. Berbagai jenis mekanisme transfer beban dalam teknologi pengikatan serta contoh angkur Hilti yang menggunakan masing-masing mekanisme tersebut