Skip to main content
Cart

Memperkuat Standar Keselamatan Bangunan melalui Seminar Passive Fire Protection

Hilti Indonesia
Reading time: < 5 minutes
Articles and Reports

Sebagai upaya mendorong peningkatan standar keselamatan kebakaran pada bangunan gedung, Hilti Indonesia bersama Knauf menyelenggarakan Seminar Passive Fire Protection: Dari Regulasi ke Implementasi di Dinas Cipta Karya, Pertanahan dan Tata Ruang (DCKTRP) DKI Jakarta.

Seminar Firestop

Seminar Passive Fire Protection Hilti – Knauf berkejasama dengan Dinas Cipta Karya, Pertanahan dan Tata Ruang DKI Jakarta | 30 April 2026

Sebagai bagian dari komitmen dalam meningkatkan standar keselamatan bangunan di Indonesia, Hilti Indonesia bersama Knauf menyelenggarakan seminar bertajuk Seminar Proteksi Kebakaran Pasif:Dari Regulasi ke Implementasi di Dinas Cipta Karya, Pertanahan dan Tata Ruang (DCKTRP) DKI Jakarta.

Seminar ini dirancang sebagai forum edukatif dan kolaboratif yang mempertemukan regulator, praktisi perencanaan dan konstruksi, fire engineer, serta penyedia solusi, untuk membahas peran strategis sistem passive fire protection dalam mendukung keselamatan jiwa, perlindungan aset, dan keandalan bangunan gedung.

Melalui kegiatan ini, Hilti dan Knauf menegaskan komitmennya tidak hanya sebagai penyedia produk dan solusi teknis, tetapi juga sebagai mitra industri dalam mendorong pemahaman yang lebih komprehensif terhadap regulasi, standar, serta praktik implementasi proteksi kebakaran pasif yang tepat dan berkelanjutan. Seminar ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara ketentuan regulatif dan penerapan nyata di lapangan, khususnya dalam konteks pembangunan perkotaan Jakarta yang terus berkembang.

Pembukaan Acara

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Cipta Karya DKI Jakarta, Vera Revina Sari, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya aspek keselamatan kebakaran sebagai fondasi dalam pengembangan Jakarta sebagai kota global. Beliau menyampaikan bahwa penerapan sistem proteksi kebakaran yang terintegrasi menjadi salah satu elemen kunci dalam memastikan keselamatan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas dan keandalan infrastruktur perkotaan.

Perspektif Perencanaan dan Desain

Tantri (Wiratman) menekankan bahwa proteksi kebakaran tidak dapat diperlakukan sebagai elemen tambahan, melainkan harus menjadi bagian integral sejak tahap awal proses desain bangunan. Pendekatan ini menuntut perencanaan yang menyeluruh dan terstruktur, dengan mempertimbangkan klasifikasi fungsi bangunan, tingkat dan karakteristik risiko kebakaran, serta pola hunian dan aktivitas pengguna di dalamnya.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa tujuan utama dari seluruh strategi proteksi kebakaran adalah keselamatan jiwa (life safety), yang mencakup upaya untuk memastikan waktu evakuasi yang memadai, pengendalian penyebaran api dan asap, serta perlindungan jalur evakuasi agar tetap aman dan dapat diakses dalam kondisi darurat.

Dalam perspektif perencanaan dan desain, sistem proteksi kebakaran pasif—seperti kompartementasi, ketahanan api elemen struktur dan non-struktur, serta integrasi sistem proteksi lainnya—harus dirancang secara selaras dengan konsep arsitektur dan fungsi bangunan. Dengan demikian, solusi yang dihasilkan tidak hanya memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga mampu memberikan perlindungan optimal, efisien, dan berkelanjutan sepanjang siklus hidup bangunan.

Perspektif Fire Engineering dan Risk-Based Approach

Fahri (Ignis Fire Risk) menjelaskan bahwa proteksi kebakaran pasif merupakan salah satu lapisan fundamental dalam sistem proteksi kebakaran berlapis, yang berfungsi untuk mengendalikan perkembangan dan penyebaran api serta asap secara inheren melalui desain dan konstruksi bangunan. Sistem ini tidak berdiri sendiri, melainkan harus dirancang dan dievaluasi secara holistik sebagai bagian dari keseluruhan strategi proteksi kebakaran.

Ia menekankan pentingnya penerapan risk-based approach, di mana perancangan proteksi kebakaran disesuaikan dengan tingkat risiko aktual bangunan—meliputi fungsi, konfigurasi ruang, karakteristik penghuni, serta potensi skenario kebakaran—alih-alih semata-mata mengikuti pendekatan preskriptif. Dalam konteks ini, performance-based analysis menjadi alat penting untuk menilai apakah tujuan keselamatan, khususnya keselamatan jiwa (life safety) dan ketahanan bangunan, dapat tercapai secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui pendekatan berbasis kinerja, proteksi kebakaran pasif seperti kompartementasi, fire resistance rating, dan integritas elemen pembatas kebakaran dapat dioptimalkan untuk menjawab tantangan kondisi nyata di lapangan, termasuk keterbatasan desain, perubahan fungsi bangunan, atau kompleksitas konstruksi. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menjembatani kesenjangan antara tuntutan regulasi dan kebutuhan praktis, sehingga solusi yang diterapkan tidak hanya patuh terhadap aturan, tetapi juga relevan, adaptif, dan memberikan tingkat perlindungan yang optimal.

Perspektif Material dan Sistem Proteksi

Elisabeth (Knauf) memaparkan bahwa keandalan sistem proteksi kebakaran pasif sangat ditentukan oleh pemilihan sistem dan material yang telah teruji dan tersertifikasi, bukan hanya dari sisi spesifikasi teknis, tetapi juga kesesuaiannya dengan desain dan fungsi bangunan. Material seperti sistem dinding gypsum tahan api berperan penting dalam membentuk kompartementasi yang efektif, dengan kemampuan ketahanan api hingga beberapa jam sesuai klasifikasi dan standar yang berlaku.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa sistem proteksi kebakaran pasif yang dirancang dan diaplikasikan secara tepat tidak hanya berfungsi menahan penyebaran api dan asap, tetapi juga memberikan waktu kritis bagi proses evakuasi dan respons darurat. Oleh karena itu, pemilihan sistem harus mempertimbangkan integrasi dengan elemen bangunan lain, metode pemasangan, serta konsistensi kualitas di lapangan.

Dari perspektif konstruksi berkelanjutan, Elisabeth menambahkan bahwa solusi material modern memungkinkan efisiensi proses konstruksi, fleksibilitas desain, serta pengurangan beban struktur, tanpa mengorbankan aspek keselamatan kebakaran. Dengan demikian, sistem proteksi kebakaran pasif tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan regulasi, tetapi juga mendukung kinerja bangunan jangka panjang, keberlanjutan, dan nilai investasi secara keseluruhan.

Perspektif Firestop dan Kompartementasi

Dana (Hilti Indonesia) menyoroti bahwa keberhasilan sistem kompartementasi bangunan sangat bergantung pada penerapan firestop yang tepat dan konsisten. Firestop berfungsi sebagai elemen krusial untuk menutup setiap bukaan dan penetrasi—seperti jalur kabel, pipa, ducting, dan sambungan konstruksi—yang secara inheren berpotensi menjadi jalur penyebaran api, panas, dan asap antar ruang atau antar zona kebakaran.

Ia menjelaskan bahwa tanpa sistem firestop yang dirancang dan diaplikasikan sesuai standar, kinerja elemen proteksi kebakaran pasif lainnya, seperti dinding atau lantai tahan api, dapat terkompromi. Oleh karena itu, pendekatan sistem firestop harus mengacu pada tested system dan sertifikasi yang relevan, dengan mempertimbangkan jenis penetrasi, material penghantar, serta fire resistance rating yang disyaratkan.

Lebih lanjut, Dana menekankan pentingnya kualitas instalasi dan proses inspeksi berkala sebagai bagian integral dari siklus hidup sistem proteksi kebakaran pasif. Pemasangan yang tidak sesuai standar, perubahan instalasi di lapangan, atau kurangnya dokumentasi dapat secara signifikan menurunkan performa sistem. Dengan demikian, kolaborasi antara perencana, kontraktor, dan tim inspeksi menjadi kunci untuk memastikan bahwa kompartementasi bangunan tetap terjaga dan sistem firestop mampu memberikan perlindungan yang optimal sepanjang masa operasional bangunan.

Kesimpulan

Diskusi dalam seminar ini menunjukkan bahwa efektivitas sistem passive fire protection tidak hanya bergantung pada satu aspek, namun merupakan hasil dari integrasi berbagai elemen—mulai dari regulasi dan perizinan, desain, analisis risiko, pemilihan material, hingga kualitas instalasi dan inspeksi.

Kolaborasi antara regulator, perencana, fire engineer, dan penyedia solusi menjadi kunci dalam memastikan bahwa sistem proteksi kebakaran tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga mampu memberikan perlindungan optimal terhadap keselamatan jiwa dan aset.

Melalui kegiatan ini, Hilti Indonesia terus berupaya mendukung pengembangan kompetensi teknis serta penerapan praktik terbaik di industri konstruksi, khususnya dalam bidang proteksi kebakaran pasif.

🔧 Konsultasi Firestop & Engineering Support  Tim engineering Hilti siap memberikan dukungan teknis mulai dari tahap desain hingga implementasi, termasuk engineering judgement untuk aplikasi khusus:  Fire Protection Engineering Services – Hilti Indonesia

📘 Download Buku “Firestopping Pada Bangunan”  Buku ini memberikan panduan komprehensif mengenai konsep firestopping, standar, serta metode desain, instalasi, dan inspeksi yang dapat digunakan oleh owner, konsultan, maupun engineer:  Fire Protection Design Center / Firestop Resource – Hilti Indonesia